Taman Remaja Surabaya

Surabaya mempunyai destinasi wisata taman hiburan yang mewadahi seniman-seniman kota Surabaya. Namanya Taman Remaja Surabaya atau dulu dikenal dengan THR. Dulu tempat ini populer pada tahun 1990-an, namun kini hampir terlupakan.

Dulu tempat ini menjadi taman hiburan satu-satunya di kota Surabaya. Tahun 90-an tempat ini cukup populer, namun kini semua orang hampir melupakan keberadaan TRS.

Benar benar sedih ketika mulai masuk ke komplek taman kesenian tradisional yang satu ini. Suasana gelap dengan pencahayaan yang minim mungkin membuat sedikit orang akan bertanya-tanya apakah benar ini adalah tempat wisata?

Terletak tepat di belakang pusat pertokoan gadget Hitech Mall. Sebenarnya tempat yang cukup strategis apabila kita akan kesana. Namun, tak banyak orang tahu pula jika tepat di belakang gedung megah dengan segala kecanggihan-kecanggihan gadget yang dijual disitu.

Ada sekumpulan seniman-seniman Jawa Timur yang teriak karena terhimpit budaya-budaya luar yang mulai merongrong keaslian budaya kita. Kali ini saya sempatkan untuk jalan-jalan ke Taman Hiburan Surabaya atau yang lebih dikenal dengan TRS. Tempat ini sempat berjaya di tahun 80-90an katanya.

Dulu ada sebuah danau dimana dulunya pengunjung bisa naik perahu. Namun miris, danau itu tak lebih dari genangan air yang keruh kehijauan. Ada perahu yang entah kenapa ia tak pernah berhenti menepi. Berjejer-jejer warung yang menawarkan makanan banyak yang tutup. Entah karena dagangan mereka yang telah terjual habis atau entah sudah tak ada lagi yang mereka jual karena semua makanan yang mereka jajakan sudah pada basi.

Berjejer gedung gedung kesenian yang sempat ramai hilir mudik para pengunjung untuk menikmati pertunjukan tradisional pun banyak yang tutup. Yaa.., bisa dibilang gulung tikar mulai dari gedung wayang orang, gedung srimulat,dll. Kini, semua tak lebih dari sebuah gedung tua yang terlihat menyedihkan.

Namun dari semua kisah menyedihkan dan keprihatinan itu. THR merupakan tempat berkumpulnya para seniman-seniman Surabaya yang masih yakin bahwa budaya itu masih harus tetap dipertahankan. Bagaimanapun dan apapun caranya, tetap di sekitaran Surabaya, tempat yang konon dulunya ramai dengan segala aktivitas keseniannya di tahun 90-an. Tempat berkumpulnya para seniman-seniman Surabaya berkumpul dengan segala kereyotannya.

Jalanan masih basah yang baru saja disirami tetesan air hujan dan sedikit gerimis, dengan kemacetannya menghantarkan saya ke sini. Tempat yang cukup strategis sebenarnya, tepat di belakang salah satu pusat gadget Surabaya Hitech mall.

Suasana gelap dengan minimnya penerangan pun saya terobos tanpa ampun. Entah untuk keberapa kalinya saya datang kesini. Namun, memang kondisinya tak banyak yang berubah. Ya begitulah, tersisihkan. Deretan gedung-gedung kesenian yang tak terpakai masih menyibakkan histori tentang kejayaannya.

Sebuah danau dengan panggung masih berdiri kokoh sendiri tanpa pernak pernik. Sebuah arena teater terbuka kini pun tak ubahnya kolam dengan genangan sisa air hujan yang baru saja turun. Sebuah pendopo yang luas sedikit ramai dengan segala keriuhan anak-anak kecil yang ria bermain.

Tujuan saya kali ini sebenarnya hanyalah untuk melihat salah satu pementasan kesenian asli Jawa Timur yaitu ludruk. Sebenarnya, pada episode sebelumnya saya juga datang kesini. Namun sayang sekali, pas kebetulan kesenian ludruk sedang tidak dimainkan.

Ya, karena memang ludruk hanya dimainkan satu kali dalam satu minggu pada hari Sabtu saja. Namun kali ini tanpa diduga dan tanpa saya sadari sebelumnya, ternyata ada kesenian lainnya yang akan dimainkan malam ini.

Sebuah kesenian masih Jawa Timuran yaitu kesenian jaranan, grup jaranan dari “SANGGAR DWI BUDOYO” mungkin tak perlu lagi saya gambarkan lagi. Bagaimana ketika kesenian jaranan dimainkan.

Bunyi gamelan serta kendang pun kian mengalun kencang ketika pertunjukan mulai dimainkan. Riuh ramai penonton pun menambah ramai suasana malam itu. Sangat berbeda sekali dengan suasana saat saya pertama kali masuk pintu gerbang THR. Ternyata di dalamnya masih ada yang hidup meskipun sedikit terseok-seok.

Setelah hampir 1 jam berlalu, waktu jua yang harus mengakhiri pertunjukan ini. Padahal seru, penari yang masih muda-muda. Setelah pentas jaranan berakhir, sekarang giliran pertunjukan utama yaitu Ludruk.

Jika tadi kesenian jaranan ditampilkan di pendopo yang cukup luas. Kali ini Ludruk ditampilkan di sebuah gedung kesenian ludruk tepat di samping pendopo. Hanya dengan tiket masuk sebesar Rp 5.000 kita bisa melenggang masuk dan menikmati kesenian ludruk.

Lampu penerangan sekedarnya. Mungkin hanya 2 lampu sorot yang diarahkan ke arah panggung yang menjadi penerangan. Bangku-bangku yang berjejer rapi pun segera terpenuhi oleh para penonton yang mayoritas sudah tua. Meskipun ada beberapa yang masih muda.

Kesenian ludruk kesenian yang menampilkan seni drama cerita-cerita kehidupan sehari-hari masyarakat. Yang diselingi dengan lawakan-lawakan khas ‘Suroboyoan’. Ludruk juga sempat menjadi alat propaganda ketika zaman penjajahan Jepang. Biasanya kesenian ludruk diawali dengan tarian Remo dengan gelang lonceng yang ditalikan pada kaki sang penari.

Sumber